Minggu, 27 Mei 2012

Tragedi Terowongan Mina 1990


Tragedi Terowongan Mina
Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah.

Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jamaah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Nabi Muhammad SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

            Pada tahun 1990 diwarnai kabar duka dari Mekah. Yaitu tewasnya 1.426 orang jemaah haji akibat saling injak di terowongan Haratul Lisan, Mina. Dari seluruh korban tersebut sebanyak 649 jemaah asal Indonesia menjadi korban insiden maut tersebut. Itu terjadi karena jemaah, baik yang akan pergi melempar jumrah maupun yang pulang, berebutan dari dua arah untuk memasuki satu-satunya terowongan yang menghubungkan tempat jumrah dan Haratul Lisan.
Musibah itu terjadi karena masing-masing ingin mendapatkan yang afdhal atau utama dalam ibadahnya. Sehingga terjadi konsentrasi manusia dalam waktu yang bersamaan. Diawali dengan puluhan hingga ratusan ribu jemaah haji dari berbagai penjuru dunia berjalan lewat terowongan Haratul Lisan. Kekacauan itu segera berubah menjadi tragedi. Mereka berdesakan, berimpitan, dan lalu berguguran.

Lebih dari seribu orang gugur sebagai syuhada. Kebanyakan di antara mereka adalah saudara-saudara kita, yang datang jauh dari belahan dunia lain, Indonesia. Mereka telah berjalan jauh, membayar ongkos perjalanan hampir dua kali lipat dari perjalanan biasa. Mereka telah membayar pajak untuk mendapatkan visa haji dan ongkos-ongkos lain untuk kepuasan ibadah mereka di Tanah Suci.

Peristiwa terjadi karena jemaah haji baik yang akan pergi melempar jumrah maupun yang pulang, berebutan dari dua arah untuk memasuki satu-satunya terowongan yang menghubungkan tempat jumrah dan Haratul Lisan. Puluhan orang telah berjatuhan, tapi dorongan massa seolah tak peduli. Desakan terasa semakin kuat karena massa di belakang tidak tahu apa yang terjadi dan terus merangsek.

Petugas keamanan Arab Saudi tidak memadai tak berdaya. Ribuan anggota jemaah bahkan mulai naik lewat lewat pintu barat, yang seharusnya menjadi pintu keluar. Tak ayal, massa yang terus terdorong akhirnya menginjak-injak tubuh mereka yang telah tersungkur. Sebagian tersandung, lalu terjatuh pula.

Kepanikan semakin menjadi-jadi. Mereka yang di tengah tergencet, sementara yang di pinggir terjepit di pagar dan bahkan terlempar ke lantai bawah ketika pagar jebol. Setelah melayang enam meter ke bawah, mereka menimpa jemaah di lantai satu. Gema basmalah dan takbir "Bismillahi Allahu Akbar" kini bercampur dengan rintihan, teriakan, dan lolongan kesakitan jemaah yang terdesak, tersikut, jatuh, terimpit, tertimpa, dan terinjak jemaah lainnya.

Jemaah haji asal Indonesia yang kebanyakan sudah berusia lanjut dengan kondisi fisik yang memang relatif lebih lemah, akibat terpaan cuaca di Mekah yang kurang bersahabat banyak menjadi korban dalam tragedi tersebut. Keesokan harinya ambulans dan mobil-mobil polisi terlihat sibuk menyingkirkan orang-orang dari lokasi musibah untuk memudahkan upaya penyelamatan. Mayat-mayat bercampur dengan yang masih hidup diangkut ke dalam truk bertumpuk-tumpuk seperti tak terpakai.

Kini, di tengah semua perdebatan tentang siapa yang harus bertanggung jawab, serta iringan derai air mata saudara, anak, istri, teman, dan kerabat di Tanah Air, jenazah para syuhada Mina telah dikebumikan di Ma'la. Di pekuburan khusus jemaah haji di kawasan Jakfariyah, Mekah, Nazaruddin bersama para syuhada Mina lainnya beristirahat dengan tenang. Cita-cita mereka untuk memenuhi panggilan Allah telah terkabul.

Berikut adalah beberapa peristiwa yang perna terjadi di mina :
- 2 Juli 1990: 1.426 jamaah tewas kebanyakan dari Asia akibat terperangkap didalam terowongan Mina.
- 24 Mei 1994: 270 jamaah tewas akibat saling dorong dan injak di Mina
- 7 Mei 1995: tiga jamaah tewas akibat kebakaran di Mina.
- 15 April 1997: 343 jamaah tewas dan 1.500 lainnya terluka karena kehabisan nafas karena terjebak didalam kebakaran tenda di Mina
- 9 April 1998: 118 jamaah tewas karena berdesak–desakkan saat pelaksanaan lontar jumroh.
- 11 Februari 2003: 14 jamaah tewas di Jumrotul Mina – enam diantaranya wanita.
- 1 Februari 2004: Sebanyak 251 jamaah tewas selama pelaksanaan lontar jumrah.
- 12 Jan 2006: Sedikitnya 345 jamaah tewas di Jammarat selama pelaksanaan lontar jumrah. Insiden ini terjadi pada pukul 15.30 waktu setempat usai shalat dzuhur, setelah jutaan jamaah saling berdesak–desakkan di pintu masuk sebelah utara lantai dua Jammarat.
Beberapa kisah lain “Tragedi Terowongan Mina” tahun 1990 :

Tragedi Mina II
Di Tanah Suci, kita tak punya nama dan tak punya negara. Karena Tuhan tak akan menanyakan warna atau bentuk. Ia akan merangkul para pengunjungnya.
Namun, Ahad silam, di Tanah Suci, para pengunjung rumah suci, karena udara, karena bersesakan, karena kegairahan bertemu Tuhan, karena organisasi duniawi yang ruwet dan karena apa pun, bisa saja tersungkur dan mati di luar dugaan.
Nun di Jembatan Aqabah, Mina, Arab Saudi, di antara impitan puluhan ribu manusia yang semakin deras membanjiri, Hamdani mengulurkan tangannya. Dia ingin meraih tangan Nazaruddin yang menggapai-gapai. Lelaki itu terjebak dalam arus massa yang terus merangsek bagai air bah menuju tepi Jamarat Aqabah. Namun, tiba-tiba sebutir batu tersasar dan menerpa kepala Hamdani. Darah pun mengucur deras.
Karena terkejut dan kesakitan, anggota jemaah haji asal Bekasi, Jawa Barat, itu mengaduh. Sambil memegangi kepalanya yang bocor, ia berusaha menghentikan langkah sejenak. Tapi dorongan, desakan, dan impitan massa begitu luar biasa. Cuaca terik 37 derajat Celsius tanpa awan di langit Aqabah pun semakin menguras stamina. Dengan mudah, lelaki 35 tahun itu terbawa arus massa seperti kertas yang terhanyut air, sebelum akhirnya terpental ke sisi kiri Jamarat Aqabah. "Untunglah, saya segera ditarik seorang jemaah haji asal Turki keluar dari pusaran massa," ujarnya
Tapi saat itulah Hamdani menyaksikan betapa Nazaruddin, sahabat barunya, berupaya meloloskan diri dari banjir puluhan ribu orang dari seluruh penjuru dunia yang tenggelam dalam ekstase ritual haji. Dia melihat Nazaruddin tersengal di antara jepitan tubuh-tubuh jemaah lainnya. Sejenak ia masih menjejak tanah, tapi tak lama kemudian kakinya tak lagi mampu menahan desakan dan berat tubuhnya sendiri. Selama beberapa saat, lelaki 40-an tahun itu terombang-ambing arus massa, sebelum akhirnya terjerembab dan tersungkur di tengah kerumunan massa.
Puluhan orang telah berjatuhan, tapi dorongan massa seolah tak peduli. Desakan terasa semakin kuat karena massa di belakang tidak tahu apa yang terjadi dan terus merangsek. Petugas keamanan Arab Saudi tidak memadai. Ribuan anggota jemaah bahkan mulai naik lewat lewat pintu barat, yang seharusnya menjadi pintu keluar. Tak ayal, massa yang terus terdorong akhirnya menginjak-injak tubuh mereka yang telah tersungkur. Sebagian tersandung, lalu terjatuh pula.
Kepanikan semakin menjadi-jadi. Mereka yang di tengah tergencet, sementara yang di pinggir terjepit di pagar dan bahkan terlempar ke lantai bawah ketika pagar jebol. Setelah melayang enam meter ke bawah, mereka menimpa jemaah di lantai satu. Gema basmalah dan takbir "Bismillahi Allahu Akbar" saat mereka melontar batu jumrah kini bercampur dengan rintihan, teriakan, dan lolongan kesakitan jemaah yang terdesak, tersikut, jatuh, terimpit, tertimpa, dan terinjak jemaah lainnya.
Ridwan, anggota jemaah haji Indonesia dari Kloter 37 SOC, mengaku melihat puluhan orang jatuh dari jembatan. Semula, ia dan puluhan orang yang berada tak jauh dari lokasi mencoba menolong. "Tapi, karena membeludaknya jemaah, kami tak bisa mendekat," ujarnya. Sementara itu, tubuh orang-orang yang terlempar dari atas terus menjatuhi orang-orang yang berdesak-desakan di bawahnya. Keadaan di lantai satu menjadi kacau. Tubuh-tubuh manusia yang jatuh dan mereka yang tertimpa akhirnya terinjak-injak jemaah lainnya yang juga terus merangsek mendekati lokasi pelemparan jumrah.
Hari itu, di saat yang seharusnya kita semua tak membutuhkan nama atau bentuk, akhirnya mengenali 251 anggota jemaah haji yang meninggal terinjak-injak gara-gara berebut melempar jumrah. Dari jumlah itu, korban terbanyak, 55 orang, berasal dari Indonesia. "Sebanyak 39 meninggal saat kejadian, 13 orang di hari kedua, dan 3 orang di hari berikutnya," kata Muhammad Nadhirin, Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia. Jumlah korban tewas dalam peristiwa ini menempati posisi terburuk kedua setelah tragedi terowongan Al Mu'ashim, Haratul-Lisan, Mina, tahun 1990. Dalam tragedi itu, 1.426 anggota jemaah haji tewas dan ribuan lainnya terluka.
Menurut Menteri Urusan Haji Arab Saudi, Iyad bin Amin Al-Madani, musibah terjadi ketika sekitar dua juta anggota jemaah memadati Mina. Pada Ahad pagi, arus jemaah di jembatan Jamarat lancar dan terkendali. Tapi, sekitar pukul 8.30 waktu setempat (12.30 WIB), antrean mulai terhambat, terhalang jemaah-yang disebut Al Madani sebagai "jemaah liar"-yang melakukan ritual sambil membawa barang-barang pribadi. "Antrean jemaah sepanjang lebih dari 400 meter kemudian mendesak ke arah yang sama dan menyebabkan kepanikan," kata Madani.
Kerumunan mulai memadat saat waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi waktu setempat. Sebab, saat dluha itulah yang dianggap sebagai waktu paling afdol untuk melempar jumrah. Mereka pun tampaknya bergegas karena ingin segera dapat bertahalul dan tidak memakai pakaian ihram lagi. Namun, ketika bagian bawah Jamarat penuh massa, orang-orang pun berbondong-bondong naik ke lantai atas. Padahal, di lantai atas, lokasi pelemparan Jamarat Aqabah sangat terbatas.
Kepadatan massa semakin memuncak hingga terjadinya musibah sekitar pukul 11.00. Massa yang masih terus merangsek akhirnya baru bisa dihentikan setelah ratusan aparat keamanan Saudi datang dan segera memblokir jalanan menuju tempat kejadian. Korban-korban yang bergelimpangan pun segera dievakuasi.
Menurut Sekretaris Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama, Fauzi Amnur, faktor penyebab musibah adalah karena para anggota jemaah terlalu mengejar waktu yang dianggap baik. Para korban musibah dari Indonesia rupanya tak memperhatikan peringatan dalam buku manasik Departemen Agama. Di situ tercantum bahwa waktu afdol justru berbahaya. "Faktor lain adalah fasilitas di Mina yang tak memadai lagi untuk menampung jutaan manusia," ujarnya.
Meski peristiwa itu menurut Al-Madani hanya berlangsung 27 menit, aparat keamanan terlihat sangat lambat dan tidak efektif bertindak. Petugas muasasah negara-negara Arab yang dipimpin D.R. Thala'at Abdul Karim sangat menyesalkan keterlambatan ini. Sebab, masalah kepadatan jemaah haji saat melontar jumrah terus berlangsung tiap tahun. "Seharusnya pemerintah Saudi bisa menjamin keamanan, kelancaran, dan ketertiban demi terciptanya kenyamanan beribadah," ujar warga Tunisia itu.
Untuk musim haji tahun ini memang terlihat jelas betapa macet, ruwet, dan tidak teraturnya sebagian jemaah. Wartawan TEMPO menyaksikan kelemahan penjagaan aparat. Meskipun waktu sudah mendekati akhir waktu nafar awal, Selasa sore lalu, petugas keamanan Saudi yang menjaga di atas jembatan Jamarat tak lebih hanya 20 orang. Padahal dua hari sebelumnya baru saja terjadi musibah yang menewaskan 251 orang itu. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatasi jemaah haji yang berjumlah jutaan orang?
Al-Madani mengakui bahwa aparat keamanan kurang siap, terutama di daerah lokasi pelemparan jumrah, lebih-lebih di atas jembatan. Tapi, menurut dia, aparat keamanan tetap sigap. "Satu jam setelah kejadian, kami segera mengumumkan ke seluruh muasasah untuk melarang jemaahnya melempar jumrah dulu," ujarnya. Para korban memang segera dilarikan ke Rumah Sakit Al Muashim. Tapi, apa mau dikata, sebagian besar mereka telah wafat.
Kini, di tengah semua perdebatan serta iringan derai air mata saudara, anak, istri, teman, dan kerabat di Tanah Air, jenazah para syuhada Mina telah dikebumikan di Ma'la. Di pekuburan khusus jemaah haji di kawasan Jakfariyah, Mekah, Nazaruddin bersama para syuhada Mina lainnya beristirahat dengan tenang. Cita-cita mereka untuk memenuhi panggilan Allah telah terkabul.
Labbaika Allahumma labbaik! Aku memenuhi panggilanmu, ya Allah...!

Diselamatkan Dari Tragedi Terowongan Mina
Ketua bidang Percepatan Pembangunan Desa salah satu partai politik di Indonesia ini sudah berulang kali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. “Soalnya, berhaji memberikan ketenangan tersendiri buat saya. Belum lagi janji Allah bahwa haji mampu menghapus kesalahan kita,” ujar H Bahauddin Thonti menerangkan alasan kenapa ia berulang kali menunaikan haji.
Yang jelas, selama beberapa kali menunaikan ibadah haji, ayahanda artis Ulfa Dwiyanti ini mengalami beberapa kejadian yang luar biasa. Di antaranya terjadi pada musim haji tahu 1995, tepatnya setahun setelah ambruknya terowongan Mina yang menewaskan ratusan jamaah haji.
Ceritanya ketika itu Thonti bersama istri baru saja melontar jumrah. Selain melempar jumrah untuk dirinya sendiri, Thonti juga membadalkan (mengganti) melemparkan jumrah untuk walikota Yogyakarta, R. Widagdo. Tiba-tiba terjadi kebakaran di terowongan Mina. Kontan, ribuan jamah haji yang berada di situ langsung panik dan berdesakan-desakan untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Akibatnya, ratusan jamah terinjak-injak. Thonti sendiri mengaku selama seperempat jam kakinya tidak bisa menginjak tanah. Selain terpisah dari istri, rasa haus dan kelelahan nyaris membuat pria kelahiran Pinrang, Sumatera Selatan, 62 tahun lalu ini tidak sadarkan diri. Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang wanita yang tidak dikenalnya, memberikan air putih. “Atas izin Allah, mungkin pemberian air itulah yang menyelamatkannyawa saya ketika itu,” tuturnya.
Selain kejadian ini, masih ada kejadian lainyang membuat Thonti merasakan betul kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Ketika berhaji pada tahun 1993, Thonti sempat melihat kilat yang bentuknya panjang dan tidak beraturan. Tiga tahun kemudian, di tempat dan jam yang sama, Thonti kembali melihat kejadian kilat yang serupa.
Usai terjadinya kilat,ia pun membayangkan melihat kilat itu secara terbalik. Hasilnya, ia melihat tulisan Lailaha Illa Allah. “Saya langsung teriak Allahu Akbar, dan sujud syukur. Beberapa orang yang adadi sekitar saya sempat bertanya, ada apa. Setelah saya jelaskan, mereka pun langsung memuji kebesaran Allah.”
Sumber: Tabloid Haji dan Umroh Indonesia Edisi September 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar